Kita seringkali bersedih, menuntut kebahagiaan dari orang asing yang belum tentu mencintai kita. Sedangkan setiap hari, kita sering membuat sedih orang-orang yang hidup dan matinya rela mereka korbankan demi kita. Lalu… Pada orang asing itu kita bertanya “apakah salah bila aku mencintaimu? Aku korbankan semua untukmu. Mengertilah!” dan bulir-bulir air mata mulai mengalir..
Di lembaran hening lain yang tak pernah kita baca kisahnya, hidup sepasang wanita dan pria yang terdiam dalam kekhawatirannya. Menantikan kita yang sibuk dikecewakan orang lain. Saat kita membuka pintu, dengan sedikit ungkapan cemas mereka menyambut. Kita hanya lurus menuju kamar dan berdiam disana. Membuka jejaring sosial dan menumpahkan segala kegalauan kita. Entah untuk apa. Mungkin kita bangga bila bersedih, bangga bila kita disebut kuat karena mengalami sakit hati yang teramat sangat. Tapi kita selalu saja lupa bahwa yang kuat adalah adalah yang mampu menyaring ucapannya. Bukan mengumbarnya. Ah, maafkan jiwa muda yang lalai ini..
Beberapa menit kita berdiam diri, ketukan pintu memaksa kita bangun dan mendengar beberapa omelan yang membuat kita makin mendidih. Beberapa kata terucap dan kita hanya membalas dengan satu cara: meninggalkan percakapan begitu saja. Pergi kerumah teman untuk mencurahkan masalah hati sendiri lalu menuliskan posting di jejaring sosial yang berbunyi “Cuma ayah-ibu yang sayang sama aku. Aku Cuma sayang kalian J” lalu kembali tenggelam dalam kesedihan. Seolah kita lupa.. bahwa beberapa menit yang lalu kita malah melukai hati mereka. Tapi mereka tak pernah sekalipun lelah mencintai kita. Kita hanya mencintai mereka untuk pencitraan semata.
Setelah kita puas mencurahkan isi hati kepada teman kita, kita kembali pulang. Masuk kamar. Menatap cermin dan berjanji bahwa akan tetap mencintainya karena telah yakin bahwa melupakannya adalah hal yang amat sangat sulit dilakukan. Berharap dia mengerti dan membalas cinta kita, menghapus air mata kita. Sedangkan di balik tembok kamar kita, mereka-orangtua kita-menangis dalam doa mereka. menyebut berulang-ulang nama kita hingga Tuhan tak sanggup kiranya menolak doa mereka, mengharap kebahagiaan dan keselamatan kita mulai dari ujung kaki ke ujung kepala dengan permohonan yang merendah. Merintih. Takut sesuatu yang buruk menimpa kita. Khawatir mengapa selama ini kita bersedih. Berharap mereka bisa mengeringkan air mata kita dan menghadirkan senyum yang indah meski kita menutup diri.
Kini orang asing itu bahagia dengan dunianya sendiri tanpa pernah kita tau sampai kapan kita bisa terus bertahan mencintainya. Hingga kita hancur. Lumpuh. Tenggelam dalam egoisme sendiri. Sibuk meratapi betapa sakit batin ini. Sibuk mematut diri apakah kita harus merelakan hal yang tak kita relakan. Kita mulai sakit, terjebak oleh kelam yang kita bangun dengan kokoh. Melingkupi rapuhnya diri sendiri yang tengah terluka ini. Sementara di luar sana, mereka berdiri melindungi dunia kita. Mati-matian bekerja dan merawat luka-luka kita. Hanya kita yang ada dalam tiap tetes peluh mereka. Kita yang menutup dunia kita sendiri. Mereka yang tak pernah memikirkan hidup mereka sendiri. Kita tak pernah sadar, siapakah yang sesungguhnya bertepuk sebelah tangan? Apakah benar-benar kita yang tak mendapatkan cinta? Apakah makna hidup kita hanya sebatas menunggu dan berharap?
Ayah.. Ibu.. Mengapa tak pernah kalian risaukan cinta kami yang sedangkal jari ini?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar