Pages

Selendang Biru Muda

Jumat, 20 Desember 2013
Sore ini tampak cerah. Dalam hati terbias cahaya temaram senja yang indah. Ruly masih duduk di bangku taman itu. Selalu dengan selendang biru muda di tangannya. Tatapannya beredar dari ujung ke ujung, berharap menemukan selintas bayangan yang dia cari. 2 jam lamanya selendang itu meliuk-liuk dalam genggaman tangannya. Angin seolah ingin menemani kesunyiannya. Ruly kembali berputus asa. Ya, kembali berputus asa untuk waktu yang tak lama. Lalu akan kembali keesokan harinya pada bangku yang sama, waktu yang sama, selendang yang sama. Setiap harinya..
Rumah masih lengang, tak akan ada yang tahu seseorang telah meringkuk di sofa ruang tamu yang bahkan tak diterangi satu lampu pun. Hanya cahaya bulan yang memaksakan pendarnya melalui celah-celah jendela. “Aku pulang..” kalimat itu disambut dengkuran dari orang di atas sofa ruang tamu. Ruly menghela napas panjang saat sinar bulan yang pucat itu menunjukkan keadaan rumahnya yang luar biasa. Pecahan piring dan mie yang berserakan di karpet, air keran yang yang terus mengalir dan sebuah sepatu dalam kulkas yang terbuka. Dia tau, seharusnya dia tak meninggalkan uang lebih dari dua puluh ribu pada abangnya itu. Ruly mengutuki dirinya sendiri dan mulai membereskan kekacauan rumah satu persatu. Abangnya yang pemabuk itu tak akan bangun dengan cepat apalagi membersihkan semuanya. “Andai kamu masih disini, mbak” Ruly menengadah pada bulan dalam bingkai jendela yang lumpuh oleh lampu putih ruang tamu.
Setengah berharap, Ruly menyawang pada abangnya yang tak lagi utuh itu. Kehidupannya pincang karena dia hanya menapak pada raganya. Jiwanya telah pergi bertiup pada seorang wanita yang menghilang karena gempa mengguncang Yogyakarta beberapa tahun silam. Wanita yang tubuhnya selalu bergerak lincah, langkahnya bak mengayuh angin dengan indah, wanita yang raganya perlahan menjauh dari pandangan mata. Ruly berputus asa untuk menarik abangnya kembali pada realita, tapi dia tak pernah berputus asa untuk percaya bahwa wanita itu masih ada. Setidaknya, dia bisa temukan jejaknya. Selendang biru muda yang selalu membawanya kembali menanti di bangku taman tiap sore datang, mengikat kenangan-kenangan tentang wanita itu.
Di sore hari yan lain, taman itu dipenuhi oleh banyak sekali anak kecil yang berlarian. Para orang tua berjalan santai mengawasi mereka. Bangku itu penuh. Tak ada tempat untuk melihat sekeliling dengan leluasa. Semuanya terlalu ramai, terlalu gembira. Dan Ruly tak menyukainya. Ada pertunjukan topeng monyet disana-sini, pantas ramai, pikir Ruly. Sambil berjalan menjelajah tiap jengkal taman itu, Ruly masih mencari-cari selintas bayangan yang sama. Selendang biru muda dia ikat melingkar di tangan kirinya, selalu menemaninya. Sesekali selendang itu dipilin-pilinnya, menggantikan angin yang biasanya mempermainkan gerak luwesnya. Pikirnya melayang pada tahun-tahun lalu yang menyenangkan. Kenangan manisnya membuat Ruly tak kuasa membendung air matanya. Dia mengeringkannya dengan tangan kanannya, tak pernah sekalipun dia gunakan selendang itu. Kain yang melingkar di tangan kirinya itu hanya sebuah pertanda akan janji yang dia pegang dari pemiliknya. Janji untuk segera datang menjenguk di tenda darurat, janji untuk tetap baik-baik saja yang terucap saat getaran bumi itu mengubah penduduk kota menjadi semut yang tak karuan arah perginya. Tak lagi mengerti mana tempat untuk berpijak.
Ruly lelah, dia bersandar pada sebuah ayunan kosong di belakang taman. Tempat bermain yang justru sepi karena ditinggal penikmatnya untuk menonton hiburan topeng monyet dan satwa-satwa pintar lainnya.  Selendang itu dia lepas dari tangan kirinya. Dia duduk dan mengayun kakinya. Membuat tubuhnya naik turun di udara. Dan selendang birunya meliuk-liuk, tak ingin kalah menunjukkan lekuk tubuhnya. Rully memandang langit pasrah, sudah berapa tahun rutinitas ini berlangsung. Berapa lama dia percaya. Berapa kali dia kecewa. Ratusan hari dan selendang itu tetap membisu. Tak sedikitpun dia bersaksi atas kehadiran pemiliknya. Hanya saja Rully tak tahu kapan dia harus berhenti dan menyerah.
“Haruskah aku benar-benar mendatangi abangmu? Lupakanlah.” Sebuah suara membuyarkan lamunannya. Seorang wanita dengan baju yang cukup terbuka menelanjangi matanya. Pikiran dan rekaman dalam sehelai selendang itu tak bersua. Selendang biru muda itu dulu selalu menutup rambut wanita di depannya. Mereka seolah tak lagi dalam sejiwa, antara selendang dan wanita itu, Ruly menolak untuk bertanya. Tapi setiap jengkal tubuhnya berbahasa. Isyarat yang tertangkap oleh wanita yang dinantinya. “Aku tak akan pulang, Ruly. Sudahi penantianmu. Aku tak lagi bisa menjaga kehormatanku. Aku tak lagi bisa membawa nama abangmu. Pulanglah. Jangan tunggu aku.”
Selendang biru muda itu dia genggam dengan erat, janji akan sebuah pertemuan itu terbayar sudah. Di sampingnya, turut berjalan seorang yang menjadi penawar bagi racun dalam jiwa abangnya. Kaki yang akan menyeimbangkan hidupnya, meski entah, Ruly tak yakin dengan kesadaran abangnya. Akankah kembali pada raga dan realita, atau semakin memburuk karena semua berubah. Tak sesuai dengan fantasi liar yang dipendamnya. Ruly menghela napas panjang. Paling tidak, dia tahu bahwa inilah akhir penantiannya. Akhir dari ruang kosongnya selama ini. Jengah. Dia ingin segera kembali pada dunia.
“Resky..” suara wanita itu tertahan dalam bibir merah yang bergetar. Air mata deras menerjang rona pipinya yang manis. Ruly ingin pergi demi menyaksikan semua itu, tak kuasa melihat akhir yang akan tercipta dalam waktu singkat ini. Abangnya beku menatap ambang pintu, tempat wanita itu berdiri terpaku. Untuk pertama kali dalam tahun-tahun terakhir ini, abangnya kembali dalam kesadarannya. Wajahnya pucat meski senyum membingkai wajahnya. Wanita itu mendekat, sejenak ragu pada langkah awalnya. Dalam hening yang amat menyiksa itu, abangnya bangkit dan menangis, memeluk Ruly yang tengah getir. Antara bahagia akan kesadaran abangnya dan berharap akhir yang indah baginya. Wanita itu mendekati mereka berdua. Mendekap mereka dalam diam. Rengkuhan tangannya terpaut erat dengan abangnya. Tanpa terucap sepatah kata pun dari bibirnya.

Wanita itu bangkit disusul dengan abanganya. Mata mereka berpagut dalam masa lalu. Disambarnya selendang biru muda dari tangan Rully yang beku sedari tadi. Di depan mata Ruly dan abangnya, selendang itu terbakar. Habis. Abangnya hanya tersenyum. Senyum yang tak mampu terurai dalam pikiran Ruly. “Seharusnya aku merelakanmu” pria itu berkata. “Maafkan aku. Aku terlanjur terperangkap dalam kemiskinan setelah bencana itu berlalu. Aku malu. Seharusnya kau tak menyakiti adikmu. Kembalilah hidup, bukankah dia lebih membutuhkan kasih sayangmu?” Wanita itu berbalik. “Selamat jalan, Wulan” Ruly mendengar kata itu keluar dari mulut abangnya, tanpa ada jawab dari wanita yang kini tinggal siluet terbungkus kenangan. Dia mendapatkannya, selendang itu, penantian itu, kini terjawab oleh peluk erat abangnya. “Maafkan aku, Ruly. Maafkan aku..”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar