Sore
ini tampak cerah. Dalam hati terbias cahaya temaram senja yang indah. Ruly
masih duduk di bangku taman itu. Selalu dengan selendang biru muda di
tangannya. Tatapannya beredar dari ujung ke ujung, berharap menemukan selintas
bayangan yang dia cari. 2 jam lamanya selendang itu meliuk-liuk dalam genggaman
tangannya. Angin seolah ingin menemani kesunyiannya. Ruly kembali berputus asa.
Ya, kembali berputus asa untuk waktu yang tak lama. Lalu akan kembali keesokan
harinya pada bangku yang sama, waktu yang sama, selendang yang sama. Setiap
harinya..
Rumah
masih lengang, tak akan ada yang tahu seseorang telah meringkuk di sofa ruang
tamu yang bahkan tak diterangi satu lampu pun. Hanya cahaya bulan yang
memaksakan pendarnya melalui celah-celah jendela. “Aku pulang..” kalimat itu
disambut dengkuran dari orang di atas sofa ruang tamu. Ruly menghela napas
panjang saat sinar bulan yang pucat itu menunjukkan keadaan rumahnya yang luar
biasa. Pecahan piring dan mie yang berserakan di karpet, air keran yang yang
terus mengalir dan sebuah sepatu dalam kulkas yang terbuka. Dia tau, seharusnya
dia tak meninggalkan uang lebih dari dua puluh ribu pada abangnya itu. Ruly
mengutuki dirinya sendiri dan mulai membereskan kekacauan rumah satu persatu.
Abangnya yang pemabuk itu tak akan bangun dengan cepat apalagi membersihkan
semuanya. “Andai kamu masih disini, mbak” Ruly menengadah pada bulan dalam
bingkai jendela yang lumpuh oleh lampu putih ruang tamu.
Setengah
berharap, Ruly menyawang pada abangnya yang tak lagi utuh itu. Kehidupannya
pincang karena dia hanya menapak pada raganya. Jiwanya telah pergi bertiup pada
seorang wanita yang menghilang karena gempa mengguncang Yogyakarta beberapa
tahun silam. Wanita yang tubuhnya selalu bergerak lincah, langkahnya bak
mengayuh angin dengan indah, wanita yang raganya perlahan menjauh dari
pandangan mata. Ruly berputus asa untuk menarik abangnya kembali pada realita,
tapi dia tak pernah berputus asa untuk percaya bahwa wanita itu masih ada. Setidaknya,
dia bisa temukan jejaknya. Selendang biru muda yang selalu membawanya kembali
menanti di bangku taman tiap sore datang, mengikat kenangan-kenangan tentang
wanita itu.
Di
sore hari yan lain, taman itu dipenuhi oleh banyak sekali anak kecil yang
berlarian. Para orang tua berjalan santai mengawasi mereka. Bangku itu penuh.
Tak ada tempat untuk melihat sekeliling dengan leluasa. Semuanya terlalu ramai,
terlalu gembira. Dan Ruly tak menyukainya. Ada pertunjukan topeng monyet
disana-sini, pantas ramai, pikir Ruly. Sambil berjalan menjelajah tiap jengkal
taman itu, Ruly masih mencari-cari selintas bayangan yang sama. Selendang biru
muda dia ikat melingkar di tangan kirinya, selalu menemaninya. Sesekali
selendang itu dipilin-pilinnya, menggantikan angin yang biasanya mempermainkan
gerak luwesnya. Pikirnya melayang pada tahun-tahun lalu yang menyenangkan.
Kenangan manisnya membuat Ruly tak kuasa membendung air matanya. Dia
mengeringkannya dengan tangan kanannya, tak pernah sekalipun dia gunakan
selendang itu. Kain yang melingkar di tangan kirinya itu hanya sebuah pertanda
akan janji yang dia pegang dari pemiliknya. Janji untuk segera datang menjenguk
di tenda darurat, janji untuk tetap baik-baik saja yang terucap saat getaran
bumi itu mengubah penduduk kota menjadi semut yang tak karuan arah perginya.
Tak lagi mengerti mana tempat untuk berpijak.
Ruly
lelah, dia bersandar pada sebuah ayunan kosong di belakang taman. Tempat
bermain yang justru sepi karena ditinggal penikmatnya untuk menonton hiburan
topeng monyet dan satwa-satwa pintar lainnya. Selendang itu dia lepas dari tangan kirinya. Dia
duduk dan mengayun kakinya. Membuat tubuhnya naik turun di udara. Dan selendang
birunya meliuk-liuk, tak ingin kalah menunjukkan lekuk tubuhnya. Rully memandang
langit pasrah, sudah berapa tahun rutinitas ini berlangsung. Berapa lama dia percaya.
Berapa kali dia kecewa. Ratusan hari dan selendang itu tetap membisu. Tak
sedikitpun dia bersaksi atas kehadiran pemiliknya. Hanya saja Rully tak tahu
kapan dia harus berhenti dan menyerah.
“Haruskah
aku benar-benar mendatangi abangmu? Lupakanlah.” Sebuah suara membuyarkan
lamunannya. Seorang wanita dengan baju yang cukup terbuka menelanjangi matanya.
Pikiran dan rekaman dalam sehelai selendang itu tak bersua. Selendang biru muda
itu dulu selalu menutup rambut wanita di depannya. Mereka seolah tak lagi dalam
sejiwa, antara selendang dan wanita itu, Ruly menolak untuk bertanya. Tapi
setiap jengkal tubuhnya berbahasa. Isyarat yang tertangkap oleh wanita yang
dinantinya. “Aku tak akan pulang, Ruly. Sudahi penantianmu. Aku tak lagi bisa
menjaga kehormatanku. Aku tak lagi bisa membawa nama abangmu. Pulanglah. Jangan
tunggu aku.”
Selendang
biru muda itu dia genggam dengan erat, janji akan sebuah pertemuan itu terbayar
sudah. Di sampingnya, turut berjalan seorang yang menjadi penawar bagi racun
dalam jiwa abangnya. Kaki yang akan menyeimbangkan hidupnya, meski entah, Ruly
tak yakin dengan kesadaran abangnya. Akankah kembali pada raga dan realita,
atau semakin memburuk karena semua berubah. Tak sesuai dengan fantasi liar yang
dipendamnya. Ruly menghela napas panjang. Paling tidak, dia tahu bahwa inilah
akhir penantiannya. Akhir dari ruang kosongnya selama ini. Jengah. Dia ingin
segera kembali pada dunia.
“Resky..”
suara wanita itu tertahan dalam bibir merah yang bergetar. Air mata deras
menerjang rona pipinya yang manis. Ruly ingin pergi demi menyaksikan semua itu,
tak kuasa melihat akhir yang akan tercipta dalam waktu singkat ini. Abangnya
beku menatap ambang pintu, tempat wanita itu berdiri terpaku. Untuk pertama
kali dalam tahun-tahun terakhir ini, abangnya kembali dalam kesadarannya.
Wajahnya pucat meski senyum membingkai wajahnya. Wanita itu mendekat, sejenak
ragu pada langkah awalnya. Dalam hening yang amat menyiksa itu, abangnya
bangkit dan menangis, memeluk Ruly yang tengah getir. Antara bahagia akan
kesadaran abangnya dan berharap akhir yang indah baginya. Wanita itu mendekati
mereka berdua. Mendekap mereka dalam diam. Rengkuhan tangannya terpaut erat
dengan abangnya. Tanpa terucap sepatah kata pun dari bibirnya.
Wanita
itu bangkit disusul dengan abanganya. Mata mereka berpagut dalam masa lalu. Disambarnya
selendang biru muda dari tangan Rully yang beku sedari tadi. Di depan mata Ruly
dan abangnya, selendang itu terbakar. Habis. Abangnya hanya tersenyum. Senyum
yang tak mampu terurai dalam pikiran Ruly. “Seharusnya aku merelakanmu” pria
itu berkata. “Maafkan aku. Aku terlanjur terperangkap dalam kemiskinan setelah
bencana itu berlalu. Aku malu. Seharusnya kau tak menyakiti adikmu. Kembalilah
hidup, bukankah dia lebih membutuhkan kasih sayangmu?” Wanita itu berbalik.
“Selamat jalan, Wulan” Ruly mendengar kata itu keluar dari mulut abangnya,
tanpa ada jawab dari wanita yang kini tinggal siluet terbungkus kenangan. Dia
mendapatkannya, selendang itu, penantian itu, kini terjawab oleh peluk erat
abangnya. “Maafkan aku, Ruly. Maafkan aku..”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar